Ditulis Oleh : Amelina Junidar
Bulir bening itu menuruni pipinya. Tak terbendung bahagia rasa hati gadis kecil itu menyaksikan sebuah piala bertuliskan juara kelas dalam genggamannya. Ia lambai lambaikan ke udara, sembari menyampaikan pesan pada sepasang laki laki dan perempuan paruh baya di seberang sana di antara kerumunan orang tua murid dengan beragam ekspresi. Ada yang menangkup bibir, ada yang berpelukan seraya mengusap sudut mata.
Masih teringat di benak Anita ketika sebuah rotan menari nari di awang awang hanya demi melihat ia pandai membaca. Kalau sudah mau membantah, langsung keluar kalimat pamungkas.
“Jangan seperti ayah dan ibu, Nak. Apa pun keadaannya, rajin belajar yang utama.”
Belum selesai sampai di sana, Ayah pun tak ketinggalan menimpali, “Memangnya kamu mau nanti jadi bodoh macam si Paing. Berhitung 1-5 saja tidak pandai.”
Bagai disambar petir siang bolong, Anita mengernyit hanya demi mendengar label itu mendarat di telinganya.
Pada akhirnya, jam istirahat, kepulangan, atau di sela sela luang, ia manfaatkan waktu ke perpustakaan. Atau menemui Bu guru untuk bertanya soal yang kurang paham. Tidak ada alasan untuk santai dan berleha leha. Pokoknya tidak mau seperti si Paing. TIDAAK!! Usaha memang tak pernah mengkhianati hasil. Ibu mengusap pipi anak gadisnya, lembut.
“Kenapa sedih, Nak? Harusnya bahagia. Sini peluk!” Kedua tangan ibu membuka.
“Ibuuu …” Anita tanpa pikir panjang menghambur dalam haru.
“Hebat anak ayah, itu tangis bahagia, Bu. Lega karena perjuangannya berbuah manis. Betul kan kata Ayah dan Ibu?”
Semua berpelukan dalam kehangatan matahari siang dibalut semilir angin yang menyejukkan. ***

